Sabtu, 06 November 2010

Abu duka

Hampir setiap hari di belahan daerah sana, mereka selalu awas
Dicekam dan tercekam tak tahu harus bagaimana
Berpasrah diri terhadap kehendak yang Maha Kuasa
Menatap nanar akan tidak adanya kepastian
Akankah duka ini selesai?

Ketika alam pun bersuara
Menguakan isi hatinya yang sedih
Pedih karena tak dianggap dan selalu diperdaya
Saatnya alam membuktikan
Bukanlah seonggok daging yang berkuasa
Seonggok daging pun memiliki tuan
Tuan yang lama dilupakan dan ditinggalkan
Oleh kesesatan nafsu duniawi

Kemanakah makhluk berakal dan berbudi itu?
Apakah karena terlalu banyak akal sehingga melupakan budi baik sang pencipta?
Sadarlah wahai kaumNya
Bahwa semua ini sesaat
Semua akan berpulang
Menyatu kembali tunduk kepada kekuasaanNya

Biarlah abu menjadi bukti
Tanda duka dari sang pencipta
Atas ciptaanNya yang tak bisa menghargai dan menjaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar